Puji
Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga PDI
Perjuangan mampu melewati berbagai ujian sejarah selama 44 tahun. Pasang naik
dan pasang surut sebagai sebuah partai politik, telah kami lalui. Saya sebagai
Ketua Umum pada hari ini, ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka yang
memilih berada dalam gerbong perjuangan bersama. Terima kasih kepada mereka
yang tetap setia, meski kadang Partai ini mendapat terpaan gelombang yang
begitu dahsyat. Mereka selalu ada, tidak hanya ketika Partai ini sedang
berkibar, namun justru memperlihatkan kesetiaannya ketika Partai berada dalam
posisi yang sulit. Ijinkan saya
memberikan penghormatan, dan penghargaan sebesar-besarnya, kepada antara lain Bapak
Jacob Nuwa Wea, Bapak Alexander Litaay, dan Bapak Mangara Siahaan, dan masih
banyak yang lain, yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Mereka telah
mendahului kita menghadap Sang Khalik sebagai pejuang Partai. Mereka tidak hanya ada dalam sejarah hidup
saya, namun juga adalah tokoh-tokoh yang berjuang mempertahankan Partai ini
sebagai partai ideologis. Kesetiaan yang mereka tunjukan sepanjang hidup
kepartaian, bagi saya adalah bentuk kesetiaan ideologis, yang sudah seharusnya
dihayati, dan dijalankan oleh setiap kader Partai.
Hadiri yang saya
muliakan,
Dari
awal mula saya membangun Partai ini, tanpa ragu saya telah menyatakan dan
memperjuangkan, bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis, dengan ideologi
Pancasila 1 Juni 1945. Syukur alhamdulillah, pada tanggal 1 Juni tahun 2015
yang lalu, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya
Pancasila. Artinya, secara resmi negara telah mengakui, bahwa Pancasila 1 Juni
1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia.
Saudara-saudara,
Peristiwa
di penghujung tahun 2015, telah menggugah sebuah pertanyaan filosofis dalam
diri saya: cukupkah bagi bangsa ini sekedar memperingati 1 Juni sebagai hari
lahirnya Pancasila? Dari kacamata saya, pengakuan 1 Juni sebagai hari lahirnya
Pancasila, memuat suatu konsekuensi ideologis yang harus dipikul oleh kita
semua. Dengan pengakuan tersebut, maka
segala keputusan dan kebijakan politik yang kita produksi pun, sudah
seharusnya bersumber pada jiwa dan semangat nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945.
Apa
yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang
mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus
tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam
persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia
tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi
tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan
diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak
ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang
lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter
pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya
kekuasaan.
Syarat
mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga
dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan
bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap
agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan
dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir
karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka
benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan
SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi
tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”,
para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi
di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang
notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.
Saudara-saudara,
Apa
yang saya sampaikan di atas tentang ideologi tertutup, jelas bertentangan
dengan Pancasila. Pancasila bukan suatu ideologi yang dipaksakan oleh Bung
Karno atau pendiri bangsa lainnya. Pancasila lahir dari nilai-nilai, norma,
tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia sejak masa lalu, bahkan jauh sebelum
kemerdekaan. Bung Karno sendiri menegaskan, dirinya bukan sebagai penemu
Pancasila, tetapi sebagai penggali Pancasila. Beliau menggalinya dari harta
kekayaan rohani, moral dan budaya bangsa dari buminya Indonesia. Pancasila
dengan sendirinya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Apakah ketika
Indonesia berumur 71 tahun, kita telah melupakan sejarah bangsa? Jangan
sekali-kali melupakan sejarah kita!!
Pancasila
berisi prinsip dasar, selanjutnya diterjemahkan dalam konstitusi UUD 1945 yang
menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik.
Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus
merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Dengan demikian,
Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh
digunakan sebagai “stempel legitimasi kekuasaan”. Pancasila bersifat aktual,
dinamis, antisipasif dan mampu menjadi “leidstar”, bintang penuntun dan
penerang, bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan di dalam menghadapi
setiap tantangan yang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta
dinamika aspirasi rakyat.
Namun, tentu saja
implementasi Pancasila tidak boleh terlalu
kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan
nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, guna
meng-eksplisit-kan ide dan gagasan agar menjadi konkret, dan agar Pancasila
tidak kaku dan keras, dalam merespon
keaktualan problematika bangsa, maka instrumen implementasinya pun harus
dijabarkan dengan lebih nyata, tanpa bertentangan dengan filsafat pokok dan
kepribadiaan bangsa.
Intermezo : Pola
Pembangunan Nasional Berencana sebagai implementasi Pancasila untuk mencapai
Trisakti.
Saudara-saudara,
Indonesia
diakui sebagai negara demokratis, namun demokrasi yang kita anut dengan
Pancasila sebagai “the way of life bangsa” telah secara tegas mematrikan
nilai-nilai filosofis ideologis, agar kita tidak kehilangan arah dan jati diri
bangsa.
Pancasila,
lima sila, jika diperas menjadi Trisila, terdiri dari: Pertama,
sosio-nasionalisme yang merupakan perasan dari kebangsaan dan
internasionalisme; kebangsaan dan peri kemanusiaan. Kedua, sosio-demokrasi.
Demokrasi yang dimaksud bukan demokrasi barat, demokrasi yang dimaksud adalah
demokrasi politik ekonomi, yaitu demokrasi yang melekat dengan kesejahteraan
sosial, yang diperas menjadi satu dalam sosio-demokrasi.
Ketiga, adalah
ke-Tuhan-an. Menjadi poin ketiga, bukan karena derajat kepentingannya paling
bawah, tetapi justru karena Ke-Tuhan-an sebagai pondasi kebangsaan, demokrasi
politik dan ekonomi yang kita anut. Tanpa Ke-Tuhan-an bangsa ini pasti oleng.
Ke-Tuhan-an yang dimaksud adalah Ke-Tuhan-an dengan cara berkebudayaan dan
berkeadaban; dengan saling hormat menghormati satu dengan yang lain, dengan
tetap tidak kehilangan karakter dan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Bung
Karno menegaskan, “kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam,
jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah
jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”
Hadirin
yang saya hormati, Trisila jika diperas menjadi Ekasila, yaitu gotong royong.
Inilah suatu paham yang dinamis, berhimpunnya semagat bersama untuk membanting
tulang bersama, memeras keringat bersama untuk kebahagiaan bersama. Kebahagian
yang dimaksud adalah kebahagian kolektif sebagai sebuah bangsa, yang memiliki tiga
kerangka: pertama, Satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk
Negara-Kesatuan dan Negara-kebangsaan yang demokratis dengan wilayah kekuasaan
dari Sabang sampai Merauke; dari Miangas hingga ke Rote. Kedua, satu masyarakat
yang adil dan makmur materiil dan spiritual dalam wadah Negara kesatuan
Republik Indonesia. Ketiga, satu persahabatan yang baik antara Republik
Indonesia dan semua negara di dunia, atas dasar saling hormat-menghormati satu
sama lain, dan atas dasar membentuk satu Dunia Baru yang bersih dari penindasan
dalam bentuk apa pun, menuju perdamaian dunia yang sempurna.
Adapun
untuk mencapai kerangka tujuan di atas diperlukan dua landasan: landasan idiil,
yaitu Pancasila dan landasan strukturil, yaitu pemerintahan yang stabil. Untuk
itulah PDI Perjuangan selalu ikut dan berdiri kokoh menjaga jalannya pemerintah
Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai pemerintahan yang terpilih secara
konstitusional. Keduanya merupakan syarat mutlak atas tanggung jawab sejarah
yang harus kita tuntaskan sekaligus sebagai konsekuensi ideologis yang telah
saya sampaikan di awal, yang mengakui Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi
bangsa.
Kader-kader
Partai yang saya cintai, hadirin yang saya hormati,
Saya
menjabarkan hal-hal di atas dalam forum ini, untuk menegaskan kembali bahwa PDI
Perjuangan tetap memilih jalan ideologis. PDI Perjuangan menyatakan diri tidak
hanya sebagai rumah bagi kaum Nasionalis, tetapi juga sebagai Rumah Kebangsaan
bagi Indonesia Raya. Kepada kader Partai di seluruh Indonesia, saya instruksikan
agar tidak lagi ada keraguan, apalagi rasa takut, untuk membuka diri dan
menjadikan kantor-kantor Partai sebagai rumah bagi rakyat untuk menyampaikan
aspirasi. Saya instruksikan, jadilah “Banteng Sejati” di dalam membela
keberagaman dan kebhinekaan. Berdirilah
di garda terdepan, menjadi tameng yang kokoh untuk mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Saya yakin, TNI dan POLRI akan bersama kita dalam
menjalankan tugas ini, dan tidak akan memberi ruang sedikit pun pada
pihak-pihak yang anti Pancasila dan anti demokrasi Pancasila. Apresiasi saya
kepada TNI-POLRI yang telah berani bersikap tegas dalam menyikapi pihak-pihak
tersebut.
Bagi
kader Partai yang berada di legislatif dan eksekutif, kalian tidak hanya
dibutuhkan negeri ini untuk mempertahankan kesatuan dan kebangsaan. Perlu
disadari, terutama bagi kader yang telah mendapat kepercayan rakyat di
eksekutif. Saya tahu, kalian, bahkan saya, adalah manusia biasa. Tentu, sebagai
manusia biasa kita tidak luput dari kesalahan. Tetapi, sebagai pemimpin harus
disadari pula bahwa jabatan yang kalian emban adalah jabatan politik. Kesalahan
dalam keputusan politik tidak hanya berdampak bagi diri pribadi dan keluarga.
Kesalahan tersebut berdampak pada kehidupan seluruh rakyat. Karena itu,
hati-hatilah dalam membuat keputusan-keputusan politik, baik itu berupa
perkataan, tindakan, produk politik baik berupa kebijakan politik legislasi,
maupun kebijakan politik anggaran.
Kader-kader yang saya
cintai,
Luangkan
waktu untuk merenung, sudah tepatkah langkah-langkah yang kalian ambil atas
jabatan yang telah diberikan oleh rakyat, ataukah justru sebaliknya. Jangan
kalian justru menjadi bagian dari orang-orang yang menindas dan menyengsarakan
rakyat dengan kekuasaan yang sebenarnya justru merupakan amanah dari rakyat.
Saya
tegaskan kembali, sebagai Ketua Umum Partai, instruksi saya kepada kalian
adalah mensejahterakan rakyat, bukan sebaliknya! Kebhinekaan harus disertai
dengan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat!
Terakhir,
saya ucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang tetap setia
membatinkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak perlu
reaksioner, tetapi sudah saatnya silent majority bersuara dan menggalang
kekuatan bersama. Saya percaya mayoritas rakyat Indonesia mencintai Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Kita akan
bersama-sama terus berjuang, kita pasti mampu membuktikan pada dunia, bahwa
Pancasila mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun
kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan.
Bangsa
ini sedang berada dalam “struggle to survive”, dalam perjuangan untuk bertahan,
bertahan secara fisik dan mental! Bertahan agar tetap hidup, secara badaniah
dan mental. Hadapilah tantangan-tantangan yang ada dengan kekuatan gotong
royong sebagai kepribadian bangsa. Berderaplah terus menuju fajar kemenangan
sebagai bangsa yang sejati-jatinya merdeka. Dengan ridho Tuhan, saatnya kita
gegap gempitakan kembali segala romantika dan dinamika, dentam-dentamkan segala
hantaman, gelegarkan segala banting tulang, angkasakan segala daya kreasi,
tempa segala otot-kawat-balung-wesinya!
Sungguh: kita adalah
bangsa berkepribadian Banteng!
Hayo maju terus! Jebol
terus!
Tanam terus! Vivere
pericoloso!
Hiduplah menyerempet
bahaya di jalan Tuhan!
Ever onward, Never
retreat!
Kita pasti menang!
Wassalamualaikum
Warrahmatullahi Wabarokatuh.
Om Santi Santi Santi Om
Namo Buddhaya
Merdeka !!!
Jakarta, 10 Januari
2017
Ketua Umum PDI
Perjuangan
Megawati Soekarnoputri.